ELITISME RSBI

Seorang ibu suatu hari menyampaikan kepada saya perihal sikap anaknya yang berubah setelah menjadi siswa di salah satu SMP RSBI.  Anak si Ibu ini menjauhkan diri dengan teman-teman di lingkungannya maupun teman dekatnya semasa masih belajar di sekolah dasar dengan mengatakan: “Sekarang mereka nggak level.”  Sebuah ungkapan yang menggambarkan  adanya ketidaksederajatan diantara mereka.

Bisa jadi si anak ini berfikir bahwa diterimanya dia  di RSBI serta merta meningkatkan status dirinya ke dalam kelompok golongan elit, sementara teman-temannya yang bersekolah di sekolah regular (umum) berada di bawahnya sehingga mereka tidak sederajat lagi.

Pemberitaan RSBI di media masa dengan segala harapan dan permasalahannya, persyaratan akademik (nilai UASBN / UAN) yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang berlaku di sekolah umum, biaya pendidikan yang lebih mahal, serta penyitraan yang selama ini dilakukan baik oleh pemerintah maupun RSBI memang berkemungkinan memunculkan kebanggan dan rasa superioritas yang berlebihan di benak  peserta didik, guru, karyawan, bahkan orang tua.

Kebanggaan ini bermakna positif manakala menumbuhkan semangat kerja keras dan keberanian mengambil tanggung jawab untuk menjadi pionir dalam peningkatan mutu pendidikan di tanah air melalui capaian prestasi pendidikan yang bisa menjadi rujukan peserta didik sekolah reguler, seperti halnya tujuan pokok pembentukan  RSBI yaitu peningkatkan mutu pendidikan nasional.

Yang mengawatirkan adalah manakala kebanggaan ini memunculkan elitisme pendidikan yaitu sebuah keyakinan atau sikap yang memandang dirinya adalah kelompok terpilih yang unggul secara intelektual, sosial dan ekonomi dengan demikian berhak memperoleh perlakuan dan   hak-hak khusus (privileges) serta perlunya mereka memisahkan diri dari kelompok-kelompok lainnya.

Ungkapan “mereka nggak level” bisa dipandang sebagai sebuah kewajaran karena diucapkan oleh seorang anak kelas satu SMP yang secara psikologis, sosiologis, maupun intelektual belum matang.  Tetapi juga harus dibaca sebagai sebuah pesan bahwa ada potensi RSBI menjadi agen pemisah sosial yang mengkotak-kotakkan anak bangsa ini menjadi kelompok atas (higher class) dan kelompok bawah (lower class).

Sistem pendidikan yang baik harus menempatkan peserta didik terbaik ke dalam sekolah-sekolah yang paling memberikan tantangan (the brightest students go to the most intellectually demanding schools). Kalau kita bersepakat bahwa RSBI adalah rintisan sekolah terbaik, maka peserta didik dengan kemampuan intelektual terbaiklah yang paling berkesempatan belajar di RSBI. Kenyataannya tidak selalu demikian. Karena hambatan biaya, banyak peserta didik dengan kemampuan intelektual terbaik tetapi kurang mampu secara ekonomi tidak mempunyai cukup akses untuk belajar di RSBI.

Dengan privilege berupa pemberian block grant dari pemerintah dan kewenangan untuk memungut biaya lebih tinggi, maka RSBI dimasa datang berpotensi menjadi lembaga pendidikan nasional yang lebih banyak menopang langgengnya elitisme.

Akses  Lebih Terbuka

Pendidikan yang baik harus menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu memberikan kontribusi efektif terhadap terciptanya kehidupan yang lebih demokratis. Untuk itu perlu dilakukan beberapa hal berikut ini:

Pertama, RSBI melakukan pengembangan dan pendalaman kurikulum yang bisa menyentuh aspek-aspek seperti saling ketergantungan, keadilan sosial, dan keragaman. Aspek-aspek ini dieksplorasi secara mendalam sesuai dengan tingkatan pedidikan agar peserta didik bisa menemukan dirinya sebagai bagian dari problem sekaligus solusi atas problem yang dihadapi bangsa ini.  Sumber daya baik yang diperoleh dari pemerintah maupun yang dikumpulkan dari masyarakat tidak dialokasikan secara berlebihan untuk penambahan fasilitas, pengembangan IT dan Bahasa Inggris saja, tetapi kearah  pembentukan karakter.

Kedua, pemberian akses yang lebih terbuka kepada masyarakat luas dengan penetapan pembiayaan pembelajaran yang murah sehingga peserta didik dari golongan kurang mampu mempunyai akses yang sama.  Biaya operasional RSBI sepenuhnya ditanggung  oleh pemerintah melalui APBN dan APBD.

Ketiga, penumbuhkembangan kesadaran kepada orang tua bahwa produk pendidikan tidak bisa sepenuhnya digantungkan kepada sekolah.  RSBI harus menjalin hubungan komunikasi yang lebih hangat dan intens dibandingkan dengan yang dilakukan oleh sekolah regular dikarenakan mereka sedang menyiapkan putra-putri terbaik yang akan sangat mewarnai perjalanan bangsa ini di masa depan.

Comments

comments

Leave a Comment

More in My academic papers (17 of 18 articles)


Abstract There has been a long debate on the efficacy of grammar corrective feedback in students’ writing. The debate between ...